Impor Keramik akan pindah Pelabuhan ke Bagian Timur Indonesia

Impor keramik – Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) telah berdiskusi dengan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terkait strategi industri keramik nasional pada semester II/2020.

Ketua Umum Asaki Pak Edy Suyanto menyatakan salah satu agenda pertemuan tersebut adalah strategi untuk menghambat masuknya keramik impor ke pasar lokal. Selain itu, pertemuan tersebut juga membahas strategi yang dapat dilakukan pabrikan untuk menggenjot performa ekspor.

“Ya, [pelabuhan impor akan dipindah ke Indonesia bagian timur]. Kami usulkan [keramik impor dikirim] ke pelabuhan non-Jawa. {Menteri Perindustrian] sangat responsif dan sangat mendukung,” katanya Selasa (11/8/2020).

Adapun, Kemenperin sedang menyusun sembilan instrumen pengendalian impor untuk jangka penden dan jangka menengah. Berdasar catatan Bisnis, setidaknya ada tiga instumen yang sedang digodok yang berkaitan dengan kegiatan logistik.

Pertama, permberlakuan preshipment inspection.

Kedua, pengaturan entry point pelabuhan untuk komoditas tertentu.

Terakhir, mengembalikan pemeriksaan post-border ke border dengan catatan jika dwelling time sudah membaik dan sudah ada pengurangan pusat logistik berikat (PLB).

Di samping itu, industri keramik nasional akan mulai menggenjot ekspor jika implementasi penurunan tarif gas ke level US$6 per mmBTU sudah 100 persen. Sejauh ini, implementasi janji yang dibuat pada 2016 tersebut baru rampung sekitar 80 persen.

“Kami akan bisa more aggresive attack pasar di Asia Tenggara dan Australia dengan harga yang lebih menarik dan bersaing. Hopefully akhir bulan ini [strategi itu bisa dilakukan],” katanya.

Sebelumnya, Edy menyatakan stimulus harga gas di level US$6 per mmBTU merupakan langkah penting untuk menjaga keberlangsungan industri keramik saat pandemi. Sejauh ini, penerapan tarif tersebut masuh belum merata, yakni baru 80 persen yang tersebar di Sumatra dan Jawa bagian barat.

Dengan kata lain, sebagian besar pabrikan keramik di Jawa bagian timur masih menggunakan tarif gas lama atau di sekitar elvel US$9 per mmBTU. Pasalnya, distributor gas harus terlebih dahulu menyelesaikan dokumen surat perjanjian antara distributor dengan industriwan di hulu industri migas.

“Diharapkan paling lambat pada September 2020 sudah bisa terealisasi penuh [janji penurunan harga gas ke level US$6 per mmBTU],” ujarnya.

Di sisi lain, Edy mendata utilisasi industri keramik per Juli 2020 telah berada di posisi 56 persen. Namun demikian, kembalinya utilisasi industri ke level 65 persen diramalkan baru terjadi pada kuartal I/2021.

Edy melaporokan bahwa permintaan keramik pada semester I/2020 anjlok lebih dari 25 persen persen. Penurunan permintaan tersebut disebabkan oleh hilangnya masa puncak permintaan tahunan industri keramik pada 2 bulan seelum hari raya Idulfitri.

Sumber: Bisnis.com